Rabu, 10 Desember 2008

Perduli Seni Budaya Merapi Selatan


Festival Seni Rakyat Perangai


Beritalahat.

Dalam melestarikan seni budaya daerah menjadi sangat sulit dilakukan apabila tidak ada keperdulian dari masyarakatnya atau dari seseorang yang juga terpanggil untuk mengabdikan dirinya terhadap seni budaya tersebut. Seperti diketahui bahwa seni budaya daerah merupakan warisan nenek moyang yang sangat berharga, tetapi tidak semua orang dapat menerima dan dapat mewariskannya kembali ke masyarakat.

Masjayadi, S.Pd, (45) mengungkapkan kepada beritalahat beberapa hari lalu di kediaman salah satu tokoh gitar tunggal (berejung) Edi Hamdani (38) dan adiknya Eep (26) tokoh muda yang memiliki semangat berkesenian di Lubuk Betung 1. Masjayadi mengatakan keinginannya untuk menggali kembali dan menghidupkan lagi seni budaya yang berada di daerah Kecamatan Merapi Selatan, atau yang sering disebut Kecamatan Perangai. Masjayadi, sebetulnya baru beberapa hari mutasi dari SMA Negeri 1 Merapi Timur dan kini menjabat sebagai Kepala Tata Usaha Cabdin Merapi Selatan. Namun dirinya tertarik dengan keindahan alam Kecamatan Perangai ini, dan dirinya memahami akan asset budayanya yang cukup melimpah dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Lahat.

“Sayang pemerintah Lahat belum maksimal memberdayakan seni budaya dan daerah pariwisatanya. Perangai punya Gua Kelambit, Pelatihan Gajah, Air Terjun, Kiling Api, Batu Tiga Tungku, bukit-bukit yang memiliki nilai sejarah, banyak cerita mitos, tentang puyang dan masih banyak lagi,” ujar Masjayadi.

Sementara, Edi Hamdani yang cukup malang melintang dalam seni daerah seperti berejung, zikir, ngarak penganten bahkan pernah mendapat penghargaan dari Bupati Lahat, mengatakan, “Sekarang ini sulit nyari anak muda yang mau belajar seni tradisi lame, jadi masih kami yang tue nilah. Kadang kami latihan zikir hari selase atau hari rabu, sore hari atau selepas magrib,” katanya.

Lain hal dengan Eep adik dari Edi, menurutnya, “Sebetulnya banyak yang mau belajar seni daerah seperti nari Erai-erai, Gending Sriwijaya, dan ngarak Penganten, tapi dak katik yang ngarahkannye. Jadi kami yang mude ni nunggu saje, kalu ade yang menggerakannye pasti banyak yang melok melestarikan kesenian daerah ini,” tuturnya.

Dari pembicaraan yang cukup panjang lebar ini, Masjayadi, S.Pd mencetuskan untuk mengadakan Pesta Rakyat Perangai, yang menghadirkan festival seni Perangai, lomba desa mengenai hasil seni kerajinan dan seni tradisi lainnya.

“Mengenai biayanya dimusyawarahkan dulu dengan Camat atau Bupati baru, atau dengan perusahaan seperti PT. Batu Bara Lahat, PT PAMA atau dengan PT BA, supaya Pesta Rakyat Perangai dapat terlaksana,” tandasnya. (jrk)